Clément Lenglet itu tipe pemain yang awalnya kelihatan punya segalanya buat jadi bek top: postur oke, kaki kiri langka, tenang bawa bola, dan gak gampang panik. Tapi realitanya? Kariernya belakangan lebih banyak soal “hampir” daripada “sukses penuh”. Dia sempat jadi andalan di Sevilla, lalu dibajak Barcelona. Tapi sejak itu, bukannya makin naik… dia malah macet di tanjakan.

Awal Karier: Dibentuk di Ligue 2, Naik Level ke Ligue 1
Lenglet lahir di Beauvais, Prancis, 17 Juni 1995. Karier profesionalnya dimulai di AS Nancy, klub yang saat itu main di Ligue 2. Di situ, dia tampil dewasa banget untuk pemain muda. Main sebagai bek tengah, dia nunjukin kemampuan baca permainan dan distribusi bola dari belakang.
Dia bantu Nancy promosi ke Ligue 1, dan langsung jadi incaran banyak klub. Tapi yang dapet tanda tangan dia justru klub dari luar Prancis: Sevilla.
Sevilla: Jadi Bek Kiri Langka yang Dilirik Klub Elite
Tahun 2017, Lenglet gabung Sevilla dan langsung nyatu dengan sistem permainan mereka. La Liga cocok banget sama gaya mainnya: banyak passing, positioning penting, dan butuh bek yang gak cuma tekel tapi juga bisa build-up.
Di bawah pelatih macam Jorge Sampaoli dan Montella, Lenglet berkembang cepat. Dia rutin main di Liga Europa, tampil konsisten, dan nunjukin kalau dia siap main di level lebih tinggi.
Waktu itu, banyak yang bilang dia adalah “next Umtiti”—karena sama-sama kidal, sama-sama dari Prancis, dan sama-sama tenang.
Barcelona: Awalnya Menjanjikan, Akhirnya Jadi Tanda Tanya
Musim panas 2018, Barcelona aktifkan klausul rilis Lenglet dari Sevilla, sekitar 35 juta euro. Transfer ini disambut cukup antusias, apalagi Umtiti mulai sering cedera. Lenglet datang sebagai opsi yang siap langsung tancap gas.
Dan ya, di awal-awal, Lenglet tampil oke. Dia klop sama Piqué, bantu Barca juara La Liga 2018–19, dan beberapa kali tampil solid di laga besar. Passing-nya rapi, duel udaranya cukup bagus, dan positioning-nya jarang ngawur.
Tapi… mulai musim 2019–20, ada penurunan. Entah karena rotasi yang gak stabil, tekanan main di Camp Nou, atau penurunan mental setelah beberapa blunder fatal—Lenglet jadi makin sulit dipercaya.
Momen-Momen “Aduh” di Barcelona
Lenglet punya banyak momen bagus, tapi juga beberapa momen yang bikin fans garuk kepala. Misalnya:
- Kartu merah vs Celta Vigo
- Penalti handsball di UCL vs PSG
- Beberapa clearance aneh yang malah jadi assist buat lawan
Masalahnya, ketika lo main di Barca, setiap kesalahan jadi sorotan besar. Apalagi kalau lo bukan produk La Masia atau pemain senior. Dan itulah yang mulai bikin nama Lenglet tenggelam.
Dipinjamkan ke Tottenham & Aston Villa: Cari Nafas Baru
Musim 2022–23, Lenglet dipinjamkan ke Tottenham Hotspur. Di bawah Antonio Conte, dia lumayan sering main, terutama karena sistem 3 bek cocok buat dia. Tapi performanya gak sampai bikin Spurs mau beli permanen.
Musim berikutnya, dia dipinjam lagi, kali ini ke Aston Villa. Tapi di sana pun dia lebih sering duduk di bench. Masalahnya tetap sama: stabilitas performa.
Lenglet terlihat kayak pemain yang secara teknikal masih oke, tapi gak bisa konsisten dalam waktu lama. Dan buat klub top, itu red flag.
Timnas Prancis: Cuma Selingan, Bukan Andalan
Lenglet sempat masuk skuad timnas Prancis, bahkan main di Euro 2020. Tapi performanya waktu itu jauh dari kata meyakinkan. Prancis kalah dari Swiss di babak 16 besar, dan Lenglet salah satu yang disorot karena positioning-nya kacau di momen penting.
Sejak saat itu, dia makin jarang dipanggil. Apalagi Prancis punya stok bek tengah banyak: Upamecano, Konaté, Saliba, bahkan Lucas Hernandez bisa geser ke tengah. Jadi posisi Lenglet makin sempit.
Gaya Main: Bek Kidal Kalem yang Gak Cocok di Sistem Terbuka
Lenglet punya modal bagus: kaki kiri, passing bagus, bisa main dari belakang. Tapi kekurangannya cukup mencolok juga:
- Kurang cepat buat cover di ruang terbuka
- Gampang grogi di laga tekanan tinggi
- Jarang ambil risiko duel 1 lawan 1
Dia tipe bek yang lebih cocok di sistem tertutup—main deep block, atau dengan 3 bek. Kalau disuruh jaga garis tinggi dan cover ruang luas? Riskan.
Masa Depan: Tetap di Eropa, atau Coba Reboot di Tempat Baru?
Kontrak dia di Barcelona masih jadi PR besar, karena gaji dia lumayan gede dan performanya gak bikin klub-klub antri. Tapi bukan berarti dia “habis”. Umurnya masih 29, dan bek bisa punya karier panjang kalau ketemu sistem yang cocok.
Opsi logis? Gabung klub Ligue 1 atau tim papan tengah di Serie A yang main deep. Atau coba reboot di Liga lain kayak Bundesliga. Yang jelas, Lenglet masih punya skill—tinggal cari tempat yang mau sabar bentuk ulang dia.
Kesimpulan: Clément Lenglet, Bek Berbakat yang Masih Bingung di Tengah Jalan
Clément Lenglet bukan flop, tapi juga belum bisa disebut sukses. Dia pernah jadi harapan di Sevilla, sempat jadi andalan di Barca, tapi terlalu cepat kehilangan arah. Sekarang, dia ada di fase “titik balik”—mau bangkit, atau bakal jadi catatan kaki dari era rebuild Barcelona?
Dengan modal teknikal yang masih ada, semua tergantung mental dan pilihan karier selanjutnya.

